. Ahlan wa Sahlan

Kamis, 22 Desember 2011

_9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina (2)_

1 komentar
Keenam: Wanita Hendaklah Betah Tinggal Di Rumah
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173, shahih)
Dalam ajaran Islam pun, shalat wanita lebih baik di rumah. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا
“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di kamarnya, dan shalat seorang wanita di rumahnya yang kecil lebih utama baginya daripada dirumahnya.” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ
“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)
Ketujuh: Hendaklah Wanita Menjalani Berbagai Adab Ketika Keluar Rumah
Di antara adab yang mesti diperhatikan oleh wanita adalah:
Pertama: Tidak memakai harum-haruman ketika keluar rumah.
Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ
“Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad 4/413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)
Kedua: Hendaklah wanita benar-benar menutup aurat dengan sempurna ketika memasuki rumah yang terdapat kaum laki-laki
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Abu Al Malih Al Hudzali bahwa para wanita dari penduduk Himsha pernah meminta izin untuk menemui ‘Asiyah, maka dia berkata; “Mungkin kalian adalah para wanita yang suka masuk ke pemandian umum, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِى غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ
“Wanita mana pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka ia telah menghancurkan tirai antara dia dan Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 3750. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Ketiga: Hendaklah wanita berhias diri dengan sifat malu
Allah Ta’ala berfirman mengenai para wanita yang mendatangi Nabi Musa ‘alaihis salam,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” (QS. Al Qoshshosh: 25)
Keempat: Tidak bercampur baur dengan para pria
Allah Ta’ala menceritakan mengenai dua wanita yang mendatangi Musa,
وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ
“Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya“. (QS. Al Qoshshosh: 23)
Kedelapan: Menghindari Jabat Tangan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)
Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ
“Lebih baik kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thobroni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat As Silsilah Ash Shohihah 226)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925). Jika kita melihat pada hadits ini, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul: “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.”[1]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan tidak menyalami wanita –non mahrom- dalam kondisi yang seharusnya beliau dituntut bersalaman sekalipun semacam baiat.
Telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dari Umaimah binti Ruqaiqah berkata; “Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika para wanita membaiatnya untuk Islam. Kami mengatakan; ‘Wahai Rasulullah, kami membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendatangi kejahatan yang telah kami lakukan antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak bermaksiat terhadap anda dalam kebaikan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan: “Semampu dan sekuat kalian.” Umaimah berkata, “Kami menyahutnya, “Allah dan Rasul-Nya lebih kami sayangi daripada diri kami. Wahai Rasulullah, kemarilah, kami akan membaiatmu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ مِثْلِ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ
“Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.” (HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Kesembilan: Hendaknya Wanita Meninggalkan Tutur Kata yang Mendayu-dayu
Allah Ta’ala berfirman,
فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32) Yang dimaksudkan “janganlah kamu tunduk dalam berbicara”, As Sudi mengatakan, “Janganlah wanita mendayu-dayukan kata-katanya ketika bercakap-cakap dengan kaum pria.”[2]
Inilah beberapa jalan yang jika dijalankan dengan baik akan menjauhkan kita dari pebuatan zina yang keji. Hanya Allah yang memberi taufik bagi siapa saja yang mau merenungkan hal ini.[3]
Selesai disusun atas nikmat Allah di Panggang-GK, 19 Jumadil Awwal 1431 H (03/05/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[1] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i, hal. 41, Muassasah Ar Royan [2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 6/409, Dar Thoyibah, cetakan kedua, 1420 H.
[3] Pembahasan ini banyak kami sarikan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam risalah beliau “Wa laa taqrobuz zinaa”, Daar Majid ‘Asiiri.
Read more ...

_9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina (1)_

0 komentar
Bismillah...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Segala puji yang terbaik hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kita sudah ketahui bersama bagaimanakah kehidupan pemuda lajang saat ini. Pergaulan bebas bukanlah suatu yang asing lagi di tengah-tengah mereka. Tidak memiliki kekasih dianggap tabu di tengah-tengah mereka. Hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri pun seringkali terjadi. Bahkan ada yang sampai putus sekolah gara-gara masalah ini. Sungguh, inilah tanda semakin dekatnya hancur dunia.
Dalam tulisan kali ini, kami akan berusaha memberikan tips-tips mudah kepada segenap pemuda dan kaum muslimin secara umum agar  mereka bisa menjauhkan diri dari bahaya yang satu ini yaitu zina. Semoga Allah beri kepahaman.
Pertama: Ketahuilah Bahaya Zina
Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)
Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.
Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,
ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ
“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.
Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ
“Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.”[2]
Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Jika seseorang mengetahui bahaya zina dan akibatnya, seharusnya setiap orang semakin takut pada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan tersebut. Rasa takut pada Allah dan siksaan-Nya yang nanti akan membuat seseorang tidak terjerumus di dalamnya.
Kedua: Rajin Menundukkan Pandangan
Seringnya melihat lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat, inilah panah setan yang paling mudah mengantarkan pada maksiat yang lebih parah. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An Nur: 30-31)
Allah Ta’ala juga menerangkan bahwa setiap insan akan ditanya apa saja yang telah ia lihat, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram.
Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ »
“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)
Ketiga: Menjauhi Campur Baur (Ikhtilath) yang Diharamkan
Di antara dalil yang menunjukkan haramnya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) adalah hadits-hadits berikut.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ » . فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ « الْحَمْوُ الْمَوْتُ »
“Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ » . فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِى خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِى غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا . قَالَ « ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ »
“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahromnya.” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)
Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا
“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ
”Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan muhrim mahram tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada mahramnya.” (HR. Muslim no. 2171)
Keempat: Wanita Hendaklah Meninggalkan Tabarruj
Inilah yang diperintahkan bagi wanita muslimah. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[3]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat, dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Kelima: Berhijab Sempurna di Hadapan Pria
Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)
Konteks pembicaraan dalam ayat ini adalah khusus untuk istri Nabi. Namun illah dalam ayat tersebut dimaksudkan umum sehingga hukumnya pun berlaku umum pada yang lainnya. Illah yang dimaksud adalah,
ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.
Juga kalau kita perhatikan kelanjutan ayat, maka hijab tersebut berlaku bagi wanita mukmin lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (QS. Al Ahzab: 59)
Ditambah lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin Mas’ud,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ
“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
-bersambung insya Allah-
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86. [2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ Al Islam.
Read more ...

_Pilihan Allah Itulah yang Terbaik_

0 komentar
Bismillah...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi shahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan shahabat Abu Dzar, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat”. Maka al-Hasan bin ‘Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah: “Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) semua ketentuan takdir dalam semua keadaan (yang Allah Ta’ala) berlakukan (bagi hamba-Nya)”.
Atsar (riwayat) shahabat di atas menggambarkan tingginya pemahaman Islam para shahabat radhiyallahu ‘anhum dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama[3].
Dalam atsar ini shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin dan sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat), karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untk tidak melanggar perintah Allah Ta’ala dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka”[4].
Akan tetapi, dalam atsar ini, cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhu mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekwensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam, yaitu ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb (Pencipta, Pengatur, Pelindung dan Penguasa bagi alam semesta), yang berarti ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[5].
Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih kemanisan dan kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha dengan Allah I sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya”[6].
Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:
- Bersandar dan bersarah diri kepada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya[7]. Allah berfirman:
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3).
- Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Ta’ala bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya dan ini merupakan sebab utama Allah Ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutmaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepadaku”[8].
Makna hadits ini: Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Ta’ala[9].
- Takdir yang Allah Ta’ala tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan dan lain sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah Ta’ala maha mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik dengan kekayaan, dan demikian seterusnya[10].
- Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi berkata,”Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah Ta’ala, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah Ta’ala, seperti Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, demikian pula (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) ‘Utsman (bin ‘Affan) dan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf . Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah dan memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…”[11].
- Orang yang paling mulia di sisi Allah Ta’ala adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan yang Allah Ta’ala pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya, maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Allah Ta’ala berfirman,
{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ }
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (QS al-Hujuraat: 13).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”[12].
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 7 Jumadal ula 1432 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id

[1] Dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (3/262). [2] Dalam kitab “al-Bidaayah wan nihaayah” (8/39).
[3] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawa-id” (hal. 141).
[4] HSR al-Bukhari (no. 2988) dan Muslim (no. 2961).
[5] Lihat kitab “Fiqul asma-il husna” (hal. 81).
[6] HSR Muslim (no. 34).
[7] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “badaa-i’ul fawa-id” (2/766).
[8] HSR al-Bukhari (no. 7066- cet. Daru Ibni Katsir) dan Muslim (no. 2675).
[9] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/312) dan “Tuhfatul ahwadzi” (7/53).
[10] Lihat keterangan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab “’Uddatush shaabiriin” (hal. 149-150).
[11] Kitab “al-Aadaabusy syar’iyyah” (3/469).
[12] HSR Muslim (no. 2999).
Read more ...

Rabu, 30 November 2011

_Papa, aku pun mencintai mu_

1 komentar
Bismillah...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Sahabat...
Ketika kita di tanya, kepada siapa kita lebih dekat? Kepada ibu kah atau kepada bapak kah? Serentak semua menjawab “kepada ibu”. Tak heran, karena ibu yang 24 jam selalu bersama kita. Tapi pernahkah kita berpikir, bahwa terkadang juga bapak cemburu ketika kita berkata seperti itu. Yah, dia cemburu terhadap jawaban mu itu. Tapi bapak tak pernah marah kepada mu. Bapak tak pernah memarahi mu dan mengatakan, “kenapa hanya ibu mu saja? Padahal sebagian darah ku mengalir dalam diri mu”. Tidak sahabat, bapak tidak pernah mengatakan hal yang demikian. Dia tetap bersikap cool seperti biasanya dan dia tetap menyayangi mu.

Sahabat...
Ketika kita berada di perantauan, maka siapa yang akan kita hubungi terlebih dahulu? Bapak mu kah? Atau ibu mu kah? Serentak semua menjawab “kepada ibu”. Tak heran, sebab kasih sayang ibu telah merekat erat dalam hati kita. Tapi pernah kah kita berpikir, bagaimana perasaan bapak ketika hanya ibu yang terus-terusan kita hubungi terlebih dahulu? Sama hal nya dengan ibu, bapak pun sangat merindukan dirimu. Dan bapak pun menginginkan suatu saat nanti dia lah orang pertama juga yang akan menerima telepon dari mu. Bapak tak pernah memarahi mu dan mengatakan kepada mu “kenapa hanya ibu yang di hubungi? Kenapa ketika meminta uang baru teringat bapak?” tidak sahabat, bapak tak pernah mengatakn hal itu kepadamu, ia tetap bersikap seperti biasa dan menutupi perasaan cemburunya.

Sahabat...
Pernah kah kita berpikir, bahwa kekhawatiran bapak kepada diri mu mungkin saja melebihi kekhwatiran ibu kepada mu ketika kau sakit? Tapi itu semua jarang terpikirkan oleh kita. Lihat saja, saat tengah malam, tiba-tiba dirimu terkena demam tinggi dan persediaan obat di rumah sudah habis. Maka siapa yang rela mencari obat untuk mu? Dia rela tak tidur hanya untuk membeli obat mu. Dia rela kedinginan, dia rela basah dengan embun demi mendapatkan obat untuk buah hatinya yang tercinta. Padahal keadaan bapak yang saat itu sudah tua, dan tak bisa untuk terkena udara dingin malam hari. Tapi, itu semua tak dipikirkan olehnya. Yang ada dipikirannya, adalah kesembuhan dirimu.

Sahabat...
Suatu saat nanti kau akan menyadari bahwa betapa pentingnya bapak dalam hidup mu. Semoga, kesadaran itu tidak muncul ketika ia telah pergi. Saya tak menyuruh kepada kalian untuk membeda-bedakan kasih sayang antara yang diberikan ibu dan bapak kepadamu. Dalam tulisan ini pun, saya tidak mengatakan bahwa harus menyayangi bapak seutuhnya. Tidak. Saya hanya ingin kalian pun menyadari akan pentingnya hadir nya bapak dalam hidup mu. Saya hanya ingin kalian semua tahu, bahwa rasa sayang bapak kepada mu sama seperti rasa sayang ibu kepadamu, tetapi mereka memiliki cara yang berbeda dalam menunjukan perhatian mereka kepadamu. Kenali lah sifat dan sikap bapak mu, maka kau akan jatuh cinta kepadanya dan merasa aman ketika berada di samping nya. Dan akan merasa kehilangan ketika jauh darinya sama hal nya kau merasa kehilangan ketika kau berada jauh dari ibu mu. Jangan pernah ke sampingkan bapak dalam hidup mu. Tetaplah kau mencintai bapak dan ibu mu. ~senyyumm~

FMUBS, 30 November 2011
Makassar, 13.35 wita
Read more ...

Jumat, 25 November 2011

_Catatan akhir tahun_

0 komentar
Bismillahirrahmanirrahim ...

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh ...

Sahabat ...

       Tak terasa kita tengah berada di penghujung tahun 1432 H. Sebelum fajar di tahun esok menjelang, ada baiknya kita melihat kembali lembaran-lembaran kehidupan yang telah kita jalani. Iya, melihat kembali masa lalu. Bukan untuk terus tenggelam, tapi untuk bangkit menjadi manusia baru di sisa waktu yang ada.

       Bergantinya siang dan malam, hari demi hari, musim demi musim, tahun demi tahun semestinya membuat kita sadar bahwa saat ini kita sedang melakukan sebuah perjalanan. Sejak kita dilahirkan, sejak saat itu pula pengembaran kita dimulai, lalu kita belajar untuk mengerti bahwa dunia hanyalah tempat singgah dan  setelah itu tak ada lagi kecuali dua pilihan, Indahnya surga atau pedihnya neraka wal iyaadzu billah.

        Muhasabah .. itulah hal yang paling tepat untuk kita lakukan sebelum memasuki tahun baru. Muhasabah berarti introspeksi, melihat kembali jalan hidup yang pernah kita lalui, apakah ada amal sholeh yang telah kita persembahkan untuk terus kita tingkatkan dimasa yang akan datang, atau kekurangan-kekurangan yang kelak  akan  kita lengkapi disaat fajar esok menjelang. Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Hendaknya setiap hamba memiliki waktu-waktu untuk dia menyendiri di dalamnya  dengan do’a, dzikir,shalat, tafakkur. Dan untuk melakukan muhasabah terhadap dirinya serta memperbaiki kondisi  hatinya.”(Majmu’ul fataawa Jilid:10)

         Ditengah begulirnya masa, kita harus meluangkan waktu untuk merespon perubahan-perubahan dalam hidup ini. Melihat kembali keadaan diri dengan usia yang pada hakikatnya semakin berkurang. Melihat berarti mengevaluasi untuk kemudian merevisinya ke arah yang lebih baik. Ini bukan persoalan kecil, ditengah banyaknya orang yang tidak mau melihat kembali perjalanan hidupnya, apalagi berfikir untuk merevisinya. Di butuhkan kesadaran yang mendalam. Iya, kesadaran bahwa semua akan berakhir dan akan berbalas. Kesadaran, bahwa kita hanya akan mengetam apa yang kita tanam hari ini. Kesadran, bahwa kita sedang berpacu dengan waktu. Kesadran, bahwa kematian lebih cepat datangnya dari semua angan-angan yang kita miliki. Kita tak boleh lengah sedikitpun, Terbuai oleh kenikmatan sesaat hingga hidup digerogoti usia dan sampai pada keadaan tak lagi bisa melakukan perubahan yang berarti, karena renta, atau karena usia yang memang sudah selesai waktunya.
Hari ini, betapa banyak di antara kita yang tak pernah peduli dengan perguliran waktu dan membiarkannya mengalir sepeti air tanpa target, tanpa rencana dan tanpa tujuan yang jelas. Padahal waktu terlalu mahal untuk dibiarkan mengalir seperti air. Berapa banyak diantara kita yang membiarkan waktu berlalu dengan produktivitas kebaikan yang rendah, sementara orang lain telah memiliki saham kebaikan dimana-mana. Padahal Rashulullah shallahu alaihi telah bersabda: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang mendatangkan manfaat bagimu dan jangan merasa lemah”. Bahkan soal efisiensi waktu  beliau telah mengisyaratkan dalam sabdanya:” Diantara ciri baiknya keislaman seseorang, adalah ketika ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya”.(HR. Tirmidzi)

Sahabat...
         Dunia yang begitu luas seharusnya memberi kita ruang kesadaran, bahwa sejatinya hidup adalah perlombaan. Setidaknya dengan  waktu. Di usia kita yang entah berapa, kita mesti bertanya. Seberapa jauhkah kita melangkah? dan seberapa banyak bekal yang telah kita siapkan? Ini bukan soal dimensi usia dimana seorang mengurutkan zaman produktifitasnya  ke dalam fase yang tidak jelas: Kecil bermain, muda foya-foya, lalu tua bertaubat dari dosa. Ini murni soal berdedikasi secara baik dan maksimal. Sebab pada  akhir dan kesudahannya, hidup memang perlombaan mengejar surga dan menggapai keridhaan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman “Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan”(QS: Al baqarah :148). Bahkan dalam menggapai ampunan dan surga, Allah azza wa Jalla menyuruh kita untuk bergegas, Allah berfirman: “Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”(QS: Ali’ Imran : 133). Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata : “Ketika suatu kaum mendengar seruan,”Maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan”, dan seruan,”Dan bergegaslah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”, mereka memahami bahwa maksud dari ayat ini adalah,  hendaknya mereka bersungguh-sungguh agar setiap dari mereka menjadi pemenang menuju kemuliaan itu. Maka dahulu, perlombaan mereka adalah pada tingkatan-tingkatan akhirat. Kemudian datanglah sesudah mereka kaum yang berlomba-lomba dalam hal-hal duniawi dengan segala bagiannya yang bgitu cepat sirna”(Lathaaiful maarif). Dalam surat al Muthaffifiin, Tatkala Allah menggambarkarkan kenikmatan penghuni surga, pada akhir ayat ke 26 Dia-pun menegaskan kepada kita untuk melakukan perlombaan, sebagaimana termaktub: ”Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” Bahkan Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: ”Begegaslah kalian dalam melakukan amal shaleh, sebab akan terjadi fitnah-fitnah (yang datang) bagaikan potongan-potongan malam yang gulita” (HR. Muslim, Ahmad, dan At Tirmidzi). Ayat-ayat dan hadits di atas setidaknya menegaskan kembali kepada kita, bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan, beradu cepat dan mutu adalah nafas dan naluri kehidupan seorang mukmin.

Sahabat....
         Hidup Ini juga soal menyikapi perguliran waktu, dan menyadari bahwa semua akan sampai pada satu titik yang pasti. Seperti seorang musafir, begitulah Rasulullah shallahu alaihi wasallam menggambarkan kehidupan ini. Beliau bersabda: “Apa urusanku dengan dunia, sungguh perumpamaanku dengan dunia laksana seorang pengembara yang berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian berlalu dan meninggalkannya”(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah). Di kesempatan yang lain, ia mengajarkan umatnya bagaimana semestinya menyikapi dunia, Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu anhu menuturkan bahwa: “ Suatu ketika Rasulullah shallahu alaihi wasallam memegang pundakku dan berkata, ”Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau  pelintas jalan.” Ibnu Umar berkata: ”Jika engkau berada di sore hari, maka jangan menunggu pagi tiba. Dan jika engkau berada di pagi hari, maka jangan menunggu sore tiba, pergunakan masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan kehidupanmu untuk kematianmu.”(HR. Bukhari)

         Di tengah padatnya rutinitas kerja, kita harus mengerti begitu banyak soal logika kehidupan. Logika hidup adalah musafir yang hanya mampir untuk berteduh atau logika sampan kecil yang sedang mengarungi samudra luas dan harus berbekal cukup. Logika hidup adalah waktu, siapa yang membunuh waktu maka berarti ia membunuh hidupnya. Hanya yang menggunakan waktunya dengan baik, tepat dan benar yang akan menuai kebahagiaan di akhir langkah hidupnya. Logika tentang mimpi manusia yang panjang serta ajal yang setiap saat mengintai, atau logika hidup tentang perjalan yang beradu dengan godaan serta panggilan syaitan yang terus melambai sepanjang perjalanan. di atas semua rel logika perjalanan itulah hidup sebagian kita menjadi berarti atau mungkin berbalik tak ubahnya seperti kereta tua. Iya, kereta tua yang hanya memeberi ruang pada sisi sejarah atau kereta tua yang tak kunjung mengantarkan penumpangnya pada cita-cita. Dan Itu tak boleh terjadi. Sebab sepotong hidup hanya datang sekali, sesudah itu secepat pula ia akan pergi. Bahkan alangkah cepatnya menghilang. Pagi datang dan segaera disapu siang, sore memburu tiba-tiba dilipat malam. Gerak dan pilihan untuk terus maju, adalah prinsip besar yang harus kita pilih sebelum semuanya terlambat.  Itulah logika hidup seorang muslim.

          Siapapun kita, hendaklah meletakkan prinsip mendasar dalam hidup “Bahwa kita terlahir untuk mengabdi kepada Allah . kitapun harus mengerti sedang di jalan apa berlalu dan ke arah mana menuju, agar waktunya tak berlalu begitu saja tanpa amal yang berati. Hal ini seperti yang di gambarkan oleh sahabat yang mulia Amiirul mu’minin Ali bin abi Thalib radhiallahu anhu tatkala ia berkata ; ”Sesungguhnya dunia telah pergi dan berlalu dan akhirat telah datang dihadapan, dan keduanya memiliki anak-anak . Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan  menjadi  anak anak dunia, karena hari ini (hari-hari dunia) adalah hari untuk beramal dan bukan (hari) perhitungan dan esok adalah (hari) perhitungan dan bukan (hari untuk) amal.” Atau seperti gambaran Al Hasan Al Bashri dalam ungkapannya yang masyhur, “ wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Jika berlalu sebagian dari harimu ,maka berlalu pula sebagian dari dirimu”.  Dalam  kesempatan yang lain dia berkata: “wahai anak Adam, sesungguhnya engkau berada diatara dua kenderaan yang siap mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu pada malam dan malam pun mengantarkanmu pada siang dan selanjutnya keduanya akan mengantarkanmu pada akhirat, maka siapakah yang lebih besar marabahaya darimu wahai anak adam.? Sungguh kematian telah diikatkan diatas ubun-ubun setiap kalian, dan dunia dilipat dari belakang kalian.”

           Ungkapa-ungkapan seperti di atas  semestinya terhujam dalam sanubari setiap muslim, agar waktunya senantiasa disibukkan oleh kebajikan dalam penghambaan yang tulus kepada Allah. Sebab seonggok daging yang bernama manusia itu, tercipta untuk sebuah tugas mulia yaitu menjadi Hamba Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya: “dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku" (QS: Adz Dzaariyat : 56).”Dan sembahlah Tuhanmu, sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (maut). (QS; Al Hijr : 99). Iya, Menjadi seorang hamba dan bukan menjadi selainnya, hingga Allah mengakhiri semua cerita tentang kita.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku”
(QS Al Fajr:27-30)

Wallahu ta’ala a’lam
Washallahu ala nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wasallim

ACT, Madinah Al Munawwarah, Kamis 28 Dzulhijjah 1432 H/24 November 2011 M

Sumber : http://www.facebook.com/notes/aan-chandra-thalib/catatan-akhir-tahun/314481448579227
Read more ...

Kamis, 24 November 2011

_Taubat Seorang Ibu Ditangan Putrinya_

0 komentar
Bismillah...

Assalamu'alaikum warahmaullahi Wabarakatuh...

Empat tahun yang silam salah seorang ahli ilmu yang bernama Syaikh Ali al-Hindi meriwayatkan kisah nyata berikut ini kepada Syaikh Abdurrahman al-Makki, seraya mengatakan:
Ada seorang ibu yang merasa geram terhadap putrinya kerena ia tidak lagi seperti dulu dalam menghormati para tamu. Pekan ini, ia tidak menghormati tamu-tamu ibunya. Sang ibu merasa terheran-heran karena putrinya adalah seorang gadis yang multazimah, kuat beragama.
Di hari terakhir dari pekan ini sang gadis duduk ketika ibunya menyambut tetangganya yang datang berkunjung. Hampir saja sang ibu pingsan ketika melihat anaknya tetap terpaku duduk tidak bergerak dari tempat duduknya; tidak berdiri untuk menyambut tetangganya yang baik hati lagi mulia. Lebih-lebih ketika tetangga itu mendekati si putri sambil mengulurkan tangannya. Akan tetapi sang putri Fatimah namanya, pura-pura tidak tahu dan tidak menyambut uluran tangan tetangganya. Ia membiarkan saja sang tetangga berdiri beberapa saat sambil mengulurkan tangannya didepan ibunya yang geram dan kebingungan. Hingga ibunya berteriak: “Berdiri! Dan jabat tangannya!” Sang putri hanya membalas dengan pandangan ketidak pedulian tanpa bergeser sedikitpun dari tempat duduknya seolah-olah ia tuli tidak mendengar kata-kata ibunya.
Sang tetangga merasa sangat tidak enak terhadap kelakukan sang putri dan ia menganggap bahwa kehormatannya telah diinjak-injak dan dihina. Maka segera ia menarik tangannya kembali dan berbalik ingin segera pulang kerumahnya sambil mengatakan: “Sepertinya, saya mengunjungi kalian pada waktu yang tidak tepat.”
Disini sang putri tiba-tiba meloncat dari tempat duduknya dan memegangi tangan tetangganya lalu mencium kepalanya sambil mengatakan: “Maafkan saya, demi Allah saya tidak bermaksud berbuat buruk kepadamu.” Sang putri menuntun tangannya dengan lembut penuh dengan rasa sayang dan penghormatan dan mengajaknya duduk seraya mengatakan: “Tahukah engkau wahai bibi, betapa saya mencintaimu dan menghormatimu.”
Sang putri berhasil menenangkan perasaan tetangganya dan menghapus goresan yang telah melukai hatinya karena sikapnya yang aneh dan tidak terfahami. Sementara sang ibu menahan amarahnya jangan sampai termuntahkan dihadapan putrinya.
Sang tetanggapun berpamitan untuk pulang dan sang putri segera bangkit mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinnya memegangi tangan kanan tetangganya agar tidak mengulurkannya kepadanya. Dia mengatakan: “Seyogyanya tangan kanan saya harus tetap terulur tanpa engkau mengulurkan tanganmu kepadaku agar saya dapat melunasi keburukan apa yang telah aku perbuat terhadapmu.” Akan tetapi sang tetangga langsung mendekap sang putri kedadanya dan menciumi kepalanya seraya mengatakan: “Tidak apa-apa anakku, karena kamu telah bersumpah bahwa kamu tidak bermaksud buruk kepadaku.”
Begitu sang tetangga meninggalkan rumah, sang ibu langsung menegur putrinya dalam kemarahan yang tertahan: “Mengapa kamu bertindak seperti ini?” Fathimah menjawab: “Saya tahu kalau saya menyebabkan ibu merasa tidak enak seperti ini, maafkan saya ibu.” Ibunya bertanya: “Ia mengulurkan tangannya kepadamu, tetapi kamu tetap duduk tidak berdiri, dan tidak menjabat tangannya?!” Putri menjawab: “Engkau wahai ibu, juga melakukan yang demikian!” Ibu berteriak dengan penuh rasa heran: “Apa? Aku melakukannya?!” Ia menjawab: “Ibu melakukannya siang dan malam.” Ibunya semakin marah terheran-heran: “Apa? Aku melakukannya siang dan malam?” Ia menjawab: “Betul bu, Dia menjulurkan tangannya kepada ibu, tapi ibu tidak pernah menjabat tangan-Nya.” Ibunya semakin marah tidak faham: “Siapa yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku dan aku tidak menyambutnya?!” Fathimah menjawab: “Allah bu, Allah yang Maha Suci mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari agar ibu bertaubat, dan Dia mengulurkan tangan-Nya kepada Ibu di malam hari agar ibu bertaubat, akan tetapi ibu tidak mau bertaubat. Ibu tidak mengulurkan tangan kepada-Nya.” Ibu terdiam. Ucapan putrinya membuatnya terperanjat dan tertegun. Sang putri melanjutkan perkataannya: “Bukankah ibu merasa bersedih, ketika saya tidak mengulurkan tangan untuk menjabat tetangga kita? Dan ibu khawatir jika dia berpresepsi buruk kepadaku? Saya wahai ibu, merasa bersedih setiap hari ketika mendapati ibu tidak mengulurkan tangan untuk bertaubat kepada Allah yang Maha Suci yang mengulurkan tangan-Nya kepada ibu di siang hari dan di malam hari. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih:
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتىَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya dimalam hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar bertaubat orang yang berbuat kesalahan di malam hari hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR. Muslim)
Apakah engkau mengetahui wahai ibu, Tuhan kita membentangkan tangan-Nya kepada ibu dua kali dalam setiap hari sementara ibu tetap menggenggam tangan tidak menyambut tangan-Nya dengan taubat.” Maka berlinanglah kedua mata sang ibu. Sang putri melanjutkan ucapannya, semakin menajamkan nasihatnya: “Saya sangat mengkhawatirkan ibu, ketika ibu tidak shalat, karena pertama kali yang akan ditanyakan kepada ibu di hari kiamat adalah shalat. Saya sangat bersedih ketika melihat ibu keluar dari rumah tanpa menutup aurat yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukankah ibu merasa tidak enak ketika melihat tindakanku terhadap tetangga kita? Saya wahai ibu sangat merasa tidak enak dihadapan teman-temanku ketika mereka mempertanyakan kepadaku tentang keluarnya ibu tanpa hijab dan tanpa memperhatikan aturan-aturan agama sementara saya adalah gadis yang berhijab.” Maka air mata taubat semakin deras mengalir membasahi kedua pipi sang ibu dan putripun ikut menangis karena tidak bisa menahan rasa harunya melihat ibunya memperhatikan nasihat dan menerima kebenaran. Maka iapun bangkit dan memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang yang amat dalam. Sementara ibunya dengan isak tangisnya mengatakan: “Aku bertaubat kepada-Mu ya Rabb… Aku bertaubat kepadamu ya Rabb…”
Oleh karena itu wahai para ibu, wahai para bapak, wahai para gadis, wahai para pemuda bertaubatlah kepada Allah. Allah mengetahui keadaan kalian. Allah mengetahui apa yang tersirat dalam hati kalian. Dan Allah menunggu taubat kalian. Dan Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat. Maka, apakah kita bertaubat kepada-Nya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهُ
“Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain daripada Allah?” (QS. Ali Imran: 135)

(Majalah Qiblati Th. I Ed. 5)

Read more ...

Jumat, 11 November 2011

_Menikah vs Kuliah_

0 komentar
Bsmillah...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


oleh : Haidir Rahman Rz
Menikah vs Kuliah

Ayahku pernah cerita, ada seorang dosen yang gemar membeli buku. Sebagian besar gajinya dia habiskan untuk kepentingan ilmu. Jika ada buku baru yang terbit, dia langsung ke toko buku untuk membelinya. Suatu saat uang belanja istrinya habis, sang istri meminta tambahan uang belanja kepada suaminya, namun sang suami tidak memberinya. Ketika waktu makan siang tiba, betapa terkejutnya sang suami melihat buku-bukunya berada dibalik tudung makan. Maa…! mana makan siang kita? tanya sang suami. Makan tu buku…! jawab sang istri dengan nada sewot.

Ibuku juga mengatakan, bahwa seorang laki-laki tidak akan bisa konsentrasi belajar jika dia sibuk dengan perempuan. Maksudnya pacaran, atau lebih-lebih menikah. Jadi menurut ibuku kalau menikah ya menikah, kalau kuliah ya kuliah. Selesaikan kuliah dulu baru menikah, karena menikah sambil kuliah hanya akan mengganggu kuliah saja. Ibuku kemudian membawakan contoh potret rumah tangga yang mana sang suami putus kuliah akibat menikah teralu dini. Jadi seolah-olah ada kemungkinan bahwa menikahlah yang menyebabkan dia gagal kuliah, meskipun tidak menutup kemungkinan ada sebab lain disamping menikah itu sendiri.

Dari kisah hidup para ulama dapat kita jumpai beberapa figur dari mereka yang tidak menikah seperti Imam Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Entah apakah mereka sibuk dengan ilmu atau ada faktor lainnya, yang jelas secara zhahir mereka sangat sibuk dengan ilmu dan dakwah. Ada kemungkinan mereka hanya berniat untuk menunda pernikahan saja, namun ternyata Allah sudah menjemput mereka sebelum mereka menikah(ini hanya kemungkinan). Imam Ibnu Daqiq Al Ied menyebutkan jika pernikahan itu sekiranya mengganggu seseorang dalam menuntut ilmu maka pernikahan itu hukumnya makruh[1].

Hal ini membuatku bertanya-tanya apakah menikah dan menuntut ilmu merupakan dua hal yang saling bertentangan? Kebanyakan masyarakat di tanah air yang latar pendidikannya tinggi pasti mensyaratkan anaknya untuk lulus kuliah dulu sebelum menikah. Kira-kira apa yang terjadi, jika seseorang yang belum lulus kuliah menikah? Atau apakah kuliah bisa menjamin keharmonisan rumah tangga seseorang?
Rasanya nggak adil kalau menikah yang disalahkan dan dijadikan penghalang seseorang menuntut ilmu. Sebenarnya menikah tidak mengganggu seseorang menuntut ilmu sama sekali. Terganggu tidaknya seseorang dalam menuntut ilmu kembali kepada pribadi masing-masing.

Seorang yang menikah ditengah-tengah kesibukannya menuntut ilmu harus benar-benar pandai membagi waktu dan perasaan. Apa maksudnya dengan waktu? Yaitu waktu untuk ilmu dan waktu untuk keluarganya. Berikan waktu untuk ilmu sesuai porsinya dan berikan pula waktu anda bagi keluarga sesuai porsinya.  Adapun perasaan, ada sebuah nasehat guruku yang masih kuingat sampai sekarang. Beliau mengatakan: Jika anda tipe lelaki yang cuek, maka menikah lebih baik bagi anda meskipun anda sedang menuntut ilmu. Hal ini benar karena dengan menikah dia bisa menjaga dirinya dari pandangan yang diharamkan oleh Allah. Dan disatu sisi dia tidak terbawa perasaan rindu yang terlalu berlebihan ketika berada jauh dari istrinya. Namun jika anda seorang lelaki dengan tipe perindu dan tidak bisa berpisah dari istrinya. Maka bersabarlah sampai anda menyelesaikan studi anda. Karena meskipun dengan menikah anda bisa menjaga pandangan anda, yang notabene hal tersebut mendukung anda dalam menuntut ilmu(apalagi ilmu agama), anda akan terganggu dengan perasaan rindu kepada istri anda. Saat anda berada jauh di tempat anda menuntut ilmu, hati anda selalu berada dikamar bersamanya. Inilah yang memecah konsentrasi dalam belajar. Guruku mengatakan bahwa seorang yang tipenya cuek ketika mendengar kabar sedih tentang istrinya, dia akan mendoakan istrinya dan sepenuhnya menyerahkan perkari ini kepada Allah. Namun tipe perindu, berita tersebut akan membuatnya gelisah. Maka tips pertama adalah ketahuilah diri anda terlebih dahulu. Apakah anda tipe cuek atau perindu?

Setelah anda mengetahui tipe anda, anda harus mengetahui tipe calon yang anda pilih. Adakah dia mendukung anda dalam menuntut ilmu dengan sepenuh jiwa? Siapkah dia berpisah jauh dengan anda sampai anda menyelesaikan studi anda? Adakah dia seorang wanita yang kuat yang mampu memotivasi anda ketika anda kehilangan semangat belajar anda? Apakah dia seorang wanita yang mampu menjaga dirinya dan anak-anak anda(kalau ada) ketika anda jauh di sana? Aku kagum dengan seorang wanita(istri dari sahabatku) ketika ia mengatakan kepada suaminya: "laki-laki pengecut, berapa banyak yang ingin menuntut ilmu di kota Nabi shallallahu 'alaihi wa salam namun Allah belum mentakdirkannya ke sana. Sekarang anda yang sudah Allah pilih untuk menuntut ilmu di sana ingin pulang hanya karena rindu dengan diriku?" Sebuah kata-kata yang membakar yang keluar dari lisan wanita pemberani dan shalihah. Masya Allah Tabarakallah. Namun aku juga pernah kecewa ketika mendengar kisah seorang senior yang ketika tiba di bandara dia harus menyerah setelah mendengar kata-kata istrinya: "Kamu pilih aku atau Madinah?" Akhirnya dia memilih untuk tidak berangkat menuntut ilmu. Semoga Allah memberkahi rumah tangga mereka. Intinya harus ada kesepakatan dan saling mengerti antara anda dan istri anda. Anda mengerti dirinya dan dirinya mengerti anda sebagai seorang penuntut ilmu. Insya Allah jika ini tercapai anda sudah siap untuk membangun rumah tangga meskipun ditengah-tengah kesibukan anda menuntut ilmu, bahkan ketika tiba waktunya bagi anda untuk mengajarkan ilmu anda kepada masyarakat.   
Namun ini semua bagi diriku hanya sebatas teori. Karena mentalku sesungguhnya tidak seperti yang aku tulis disini. Yah bisa dikatakan aku adalah tipe perindu. Namun kutulis untuk menyebarkan manfaat bagi kawan-kawanku atau siapa saja yang menemukan manfaat dalam nasehat ini. Semoga Allah meluruskan niatku dalam tulisan ini.
أللهم تقبل منا صالح الأعمال

Mekkah, 19 Dzulhijjah 1431
Kutulis selepas kami menjalankan misi penerjemah.
Read more ...

Sabtu, 05 November 2011

_Sepucuk surat dari ibu dan ayah ..._ (Copast)

0 komentar
Bismillah...

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


Anak ku..
Ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untuk ku.
Suatu ketika aku memecahkan piring atau menumpahkan sup di meja karena penglihatan ku berkurang, aku berharap kamu tidak memarahiku.

Orangtua itu sensitif. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.
Ketik pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak mendengar apa yang kamu katakan, aku berharap kamu tidak memanggilku “tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya.

Maaf anak ku... aku semakin tua.
Ketika lutut ku seamakin lemah,aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk membantu ku bangun. Seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan.
Aku mohon jangan bosan dengan ku.

Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakanseperti kaset rusak, aku berharap kamu terus mendengarkan aku. tolong jangan mengejekku atau merasa bosan dengan ku.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulangsampai kamu mendaptkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bau ku..
Tercium seperti orang yang sudah tua.
Aku mohon jangan memaksa ku untuk mandi. Tubuh ku lemah. Orang tua mudah sakit karena mereka rentan dengan dingin. Aku berharap, aku tidak terlihat kotor bagimu.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil?
Aku selalu mengejar-ngejar kamu karena kamu tidka ingin mandi.
Aku berharap kamu bersabar dengan ku ketika aku rewel. Ini semua bagian dari menjadi tua.
Kamu akan mengerti ketika kamu tua.

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku berharap kita bisa bicara.
Bahkan untuk beberapa menit. aku selalu sendiri sepanjang waktu. Dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara.  Aku tahu, kamu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan jika kamu tidak tertarik dengan cerita ku, aku mohon berikan aku waktu untuk bersama mu.
Apakah kamu ingat ketika kamu maish kecil?aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainan mu.
Ketika saat nya tiba, dan aku hanya bisa terbaring sakit dan sakit, aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku.

Maaf ..

Kalau akau sengaja mengompol dan membuat berantakan. Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawat ku. Selama beberapa saat terakhir dalam hidup ku.
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematian ku datang, aku berharap kamu memegang tangan ku dan memberiku kekuatan untuk mengahadapi kematian.

Dan jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik padaNya,  untuk selalu memberikan berkah kepada mu, karena kamu mencintai ibu dan ayah mu.

Terima kaish atas segala perhatian mu nak.

Kami mencintai mu ...



Dengan kasih yang berlimpah
Ibu dan ayah...
Read more ...

Minggu, 23 Oktober 2011

_Istiqomah itu ..............._

0 komentar
Satu kata yang begitu mudah kita mengucapkannya namun begitu sulit bagi kita untuk teguh di dalamnya

Satu kata yang sering kali kita mendengarnya ketika sedang mengakhiri pembicaraan dengan orang lain, namun begitu sulit bagi kita untuk menjaganya.

Satu kata yang sering kali kita ucapkan kepada orang lain namun diri sendiri pun kadang terombang-ambingkan dengan keadaan yang ada.

Istiqomah....

Mudah bagi lisan ini untuk mengucapkannya, tetapi, masya Allah betapa sulit bagi kita untuk tetap bertahan hingga akhir nanti.

Betapa sulitnya bagi kita untuk tetap berdiri tegak, kokoh diatas pondasi keistiqomahan.

Lingkungan sekeliling kita selalu mengombang-ambing kan hati yang lemah ini.

Dalam diri ini sebenarnya telah tertanam bahwa ujian akan tegaknya hati dalam pondasi keistiqomahan pasti akan ada. tapi selalu saja kita terkecoh oleh limpahan kenikmatan disekitar kita yang menggugah hati ini untuk merasakannya.

Ketika kita telah jauh dari majelis-majelis ilmu, jauh dari berkumpul bersama orang-orang yang berilmu, sebenarnya hati ini telah sadar bahwa kita sekarang sedang dalam masa-masa kegoncangan hati dan jiwa. Hati mengamuk, sedih, marah dan kadang pun kegelisahan tanpa penyebab merasukinya.

Mungkinkah sang hati menolak apa yang sedang raga ini lakukan? Mungkinkah hati berontak terhadap diri kita yang telah jauh dari majelis-majelis ilmu hingga dia marah terhadap kita? Ataukah ini bentuk teguran Allah kepada kita agar hati kita merasa gundah gulana dan mencari solusinya dengan men-chargernya dalam majelis ilmu serta berkumpulnya kembali bersama orang-orang yang berilmu?

Wahai diri yang lemah, kembalilah kamu pada masa-masa hidayah itu menyapa mu dengan kelembutannya. Tumbuhkanlah semangat dalam dirimu untuk selalu haus akan ilmu syar’i.
Siramilah hati mu dengan air syurga yang menyejukkan dalam majelis ilmu dan pupuklah hati mu dengan pupuk kompos dalam lingkaran halaqah bersama orang-orang berilmu.

Wahai diri, tumbuhkan lah rasa takut pada dirimu jika engkau kembali pada masa-masa silam mu di masa lalu. Takutlah kamu jika suatu saat nanti Allah mencabut hidayah itu dari dalam dirimu. Takutlah kamu jika suatu saat nanti, Allah tidak lagi memandangmu. dan bagaimana ketika Allah telah membiarkanmu dan tak lagi memandang mu? Sungguh, betapa diri ini telah mendapat kerugian yang sangat besar.

Yaa Allah, Yaa Rabbi, tetapkan lah hati kami pada agamaMu. Matikanlah lah kami dalam keadaan husnul khatimah. Bantulah kami dalam menjaga hidayah Mu ya Rabb.
Semoga ... semoga kita akan tetap berada di jalan ini hingga akhir nanti.

FMUBS, Makassar 18 Okt 2011
23.46 Wita
Read more ...

Minggu, 16 Oktober 2011

_Apakah Ta'aruf adalah pacaran???_

0 komentar
Bismillah ...

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh...

Segala puji bagi Allah yang selalu menjadikan kita seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepadaNya atas segala pemberianNya.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita wanita-wanita yang insya Allah tetap istiqomah dijalanNya.

Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita seorang mukminah yang paham terhadap agamaNya.

Segala puji bagi Allah, yang insya Allah kita dihindarkan dari segala sesuatu yang mengundang makar Allah.

Kira-kira 2 pekan yang lalu, saat channel Tv sedang diganti-ganti oleh bapak yang asyik menonton, tiba-tiba bapak berhenti memindahkan channel Tv pada salah satu stasiun Tv yang saat itu sedang diputarnya berita infotainment. Isi berita itu seputar salah satu aktifis dakwah yang dikagumi oleh kebanyakan orang Indonesia. Berita seputar proses ta’aruf yang sedang dilakukannya, begitu kata host nya. Saya yang saat itu mau ke dapur terhenti melangkah sesaat mendengar statementnya yang membuat darah saya mendidih. “kita sekarang sedang menjalankan ta’aruf. Ta’aruf diantara kita pada bulan Juli, kira-kira sudah 2 bulan lebih kita berta’aruf.  Ya kalau cocok kita lanjut. Waktu pernikahan kami telah ditentukan bulan 2 tahun depan”.  Pada kesempatan yang lain mereka selalu terlihat jalan berdua. Saat itu rasanya saya ingin menangis dan segera meminta bapak untuk memindahkan channel Tv.

Entah apa yang sedang terjadi sekarang. Apakah karena keterbatasan kita dalam menuntut ilmu atau kah karena kita mendahulukan nafsu kita dalam melakukan setiap tindakan.  ~Na’udzubillah, semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wata’ala~

Mungkinkah saya yang terlalu kolot dalam memandang sesuatu yang disyari’at kan ataukah mereka yang memudah-mudahkan syari’at dan mengubah syari’at sesuai dengan tuntutan zaman? ~semoga kita selalu ditunjukan mana yang batil dan mana yang haq~

Saudara ku, ingin hati ini menangis karena tercabik-cabik oleh fenomena yang terjadi sekarang. Entah bagaimana mereka menafsirkan kata “Ta’aruf”.  Sekali lagi akankah saya yang terlalu kolot dalam memahami syari’atnya Allah atau mereka yang selalu mengedepankan nafsunya dalam bertindak.

Saudaraku, sebelum kita melangkah menuju mahligai pernikahan maka tidak ada komunikasi intensif yang harus terjadi di antara kita dan dia. Tidak ada pertemuan yang intensif antara kita dan dia, walaupun kita bertemu dengannya dengan menjaga jarak 10 meter, hal tersebut pun tidak boleh kita lakukan. Terlebih jika kita mengiyakan ajakannya untuk dinner, sekalipun kita pergi beramai-ramai, hal tersebut pun terlarang. Sebab akad diantara kita dan dia belum terjadi. bukankah ada yang dinamakan dengan ikhtilath? Jika kita melakukan pertemuan yang intensif, komunikasi yang keseringan hingga jalan bareng pun terjadi, maka sadar ataupun tidak kita telah melakukan pacaran. Dan bukan ta’aruf. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memiliki ikatan melakukan hal-hal seperti orang yang telah memiliki ikatan? Ketika kita berdalih bahwa ini adalah bagian dari ta’aruf, proses pengenalan sifat dan karakter maka bukan seperti ini caranya. Terlebih kita telah menjalin hubungan dengannya hampir setahun dan waktu penentuan hari pernikahan pun masih berbulan-bulan lamanya. Wal ‘iyya’udzubilllah.

Saudaraku, bukankah kehancuran Bani Israil –bangsa yang terlaknat– berawal dari fitnah (godaan) wanita? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:“Telah terlaknat orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa bin Maryam. Hal itu dikarenakan mereka bermaksiat dan melampaui batas. Adalah mereka tidak saling melarang dari kemungkaran yang mereka lakukan. Sangatlah jelek apa yang mereka lakukan.” (Al-Ma`idah: 79-78)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (indah memesona), dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalian sebagai khalifah (penghuni) di atasnya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerhatikan amalan kalian. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita, karena sesungguhnya awal fitnah (kehancuran) Bani Israil dari kaum wanita.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya untuk berhati-hati dari fitnah wanita, dengan sabda beliau: “Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)

Saudaraku, kita terlalu tau tentang hadits ini bahwa memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang meskipun tanpa syahwat adalah zina mata . Mendengar ucapan wanita (selain istri) dalam bentuk menikmati adalah zina telinga. Berbicara dengan wanita (selain istrinya) dalam bentuk menikmati atau menggoda dan merayunya adalah zina lisan. Menyentuh wanita yang tidak dihalalkan untuk disentuh baik dengan memegang atau yang lainnya adalah zina tangan. Mengayunkan langkah menuju wanita yang menarik hatinya atau menuju tempat perzinaan adalah zina kaki. Sementara kalbu berkeinginan dan mengangan-angankan wanita yang memikatnya, maka itulah zina kalbu. Kemudian boleh jadi kemaluannya mengikuti dengan melakukan perzinaan yang berarti kemaluannya telah membenarkan atau dia selamat dari zina kemaluan yang berarti kemaluannya telah mendustakan. (Lihat Syarh Riyadhis Shalihin karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, pada syarah hadits no. 16 22)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32).

Lalu dimanakah semua yang telah Allah syari’atkan kepada kita? Kita kemanakan ilmu yang kita miliki dalam majelis-majelis ilmu.

Ya Allah, Ya Rabbi, kami berlindung kepada Mu dari segala sesuatu yang akan mendatangkan makarMu.

FMUBS, Makassar 16 Okt 2011.
21.08 wita
Read more ...